.

Selasa, 18 Juni 2013

Laporan Fisiologi - Darah II

PENDAHULUAN

A.                Kadar Hemoglobin (METODA SAHLI)
Metoda ini masih banyak digunakan di lapangan dan laboratorium klinik, tetapi sudah jarang digunakan dalam penelitian karena kurang akurat.
Prinsip
            Darah dengan larutan HCl 0,1 N akan membentuk hematin yang berwarna coklat. Warna disamakan dengan warna standar sahli dengan menambahkan aqudestilata sebagai pengencer.
Bahan dan alat
            Bahan dan alat yang digunakan yaitu Hemoglobinometer Sahli (Tabung Sahli bersakala % atau gr %, pipet Sahli 0,020 ml. (20 cmm) dan aspirator, standar warna Sahli, alat pengaduk, pengukur waktu), HCl 0,1 N, aquadestilata, jarum penusuk pembuluh darah, gunting, alkohol 70% dan kapas.
Tata kerja
            Tabung Sahli diisi dengan larutan HCl 0,1 N sampai anka 10 (garis bawah tabung). Kemudian tempat pengambilan darah dibersihkan dengan menggunakan kapas beralkohol dan dikeringkan. Bila daerahnya berbulu, misalnya telinga kelinci atau kaki anjing, gunting dahulu bulunya. Ditusukkan pembuluh darah dengan menggunakan franke/linset dan diisap darah dengan pipet Sahli sampai batas 20 (0,02 ml) perlahan-lahan. Kemudian dibersihkan ujung pipet dan dimasukkan darah ke dalam tabung Sahli. Tabung Sahli diletakkan diantara kedua bagian standar warna dalam alat hemoglobinometer. Biarkan selama 3 menit sampat terbentuk asam hematin  yang berwarna coklat. Dengan menggunakan pipet tetes, diteteskan aquadestilata setetes demi setetes kedalam tabung sambil diaduk, sampai warna sama dengan warna standar. Pada tabung Sahli dibaca tinggi permukaan dengan melihat skala jalur gr % yang berarti banyak hemoglobin dalam gram per 100ml darah.

B.                 Hematokrit (% Volume BDM)
Tujuan
            Menentukan nilai hematokrit (%volume eritrosit) di dalam darah dengan metoda mikrohematokrit.
Prinsip
            Darah yang tercampur dengan antikoagulan diputar dengan alat “centifuge” sehingga terbentuk lapisan-lapisan. Kolom atau lapisan yang terdiri atas butir-butir darah merah atau eritrosit diukur dan dinyatakan sebagai % volume dari keseluruhan.
Bahan dan alat
            Bahan dan alat yang digunakan yaitupipet mikrometer yang dilapisi heparin, centrifuge, alat untuk membaca hematokrit mikrokapiler, crestaseal (penyumbatan pipa kapiler) atau microburner (api), perlengkapan untuk mengambil darah (jarum penusuk pembuluh darah atau lancet, alkohol 70%, kapas dan gunting bila perlu).
Tata kerja
            Daerah pengambilan darah dibersihkan dengan alkohol 10%. Pembuluh darah ditusuk dengan lancet dan ditempelkan ujung mikrometer yang bertanda (merah atau biru) pada tetesan darah. Darah dibiarkan mengalir sendiri sampai 4/5 bagian pipa kapiler. Ujung pipa kapiler yang bertanda disumbat dengan crestaseal atau bakar ujung pipa terseut dengan hati-hati. Pipa kapiler ditempatkan di alat pemusing dengan bagian yang tersumbat menjauhi pusat alat pemusing. Kemudian dipusing selama 5 menit dengan kecepatan 11.500 – 15.00 RPM atau 15 menit dengan kecepatan 2.500 – 4.000 RPM. Setelah dipusing aka terbentuk lapisan-lapisan yang terdiri atas lapisan plasma yang hernih dibagian teratas, kemudian lapisan putih abu-abu (buffy coat) yaitu trombosit, leukosit dan lapisan darah merah yang terdiri dari eritrosit.
Diukur nilai hematokrit dengan alat baca mikrohematokrit dengan mengukur % volume eritrosit dari darah. Beberapa macam alat untuk mengukurnya yang sederhana cara memakainya yaitu:
a.       Dasar lapisan darah merah diletakkan pada pipa kapiler tepat pada garis (pipa lurus) dan permukaan lapisan pasma (pertemuan antara plasma dan udara) memotong garis horizontal 100%
b.      % Hematokrit dibaca  pada bagian kanan yang bertepatan dengan tinggi kolom/lapisan eritrosit dalam pipa kapiler.

Pipa mikrokapiler yang berlapis heparin setelah diisi darah dan dipusing dengan alat micro-centrifuge terbentuk lapisan-lapisan sebagai berikut :



A.                Menghitung Jumlah Butir Darah Merah dan Jumlah Butri Darah Putih
Tujuan
            Tujuan dari praktikum ini yaitu menghitung jumlah butir darah merah (BDM, eritrosit per mm3 (cmm) dan menghitung jumlah butir darah putih (BDP, leukosit per mm3 (cmm).
Prinsip
            Dengan menggunakan pipet eritrosit/leukosit, darah dicampur dengan larutan pengencer. Kemudian dengan menggunakan Hemositometer (kamar hitung), banyaknya butir darah merah per mm3 dihitung di bawah mikroskop dan setelah dikoreksi terhadap faktor pengenceran, jumlah BDM/BDP per mm3 darah dapat ditentukan.
Bahan dan alat
            Hemositometer Neubauer atau merk lainnya yang terdiri dari kamar hitung dan kaca penutupnya, pipet (pengencer) eritrosit, dengan ciri di dalammya terdpat butiran berwarna merah dan skala pada pipet tesebut: 0.5-1.0-101, pipet (pengencer) leukosit dengan ciri di dalamnya terdapat butiran berwarna putih dan skala pada pipet ini: 0.5-1.0-101 kedua pipet tersebut dilengkapi dengan aspirator, mikroskop cahaya dengan objektif 10x dan 45x dan okuler 10x, larutan pengencer (untuk eritrosit misalnya larutan Hayen dan leukosit mamalia larutan Turk sedangkan leukosit unggas larutan modifikasi Rees dan Ecker (BCB 0,3%), alat pengambil darah, cawan untuk tempat luran pengencer dan alat untuk menghitung (hand tally).
Tata kerja
            Kamar hitung dibersihkan dengan kain halus dan bersih. Kamar hitung diperiksa/diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x, maka akan terlihat gambar kotak-kotak seperti contoh gambar 7. Ukuran-ukuran kamar hitung sebagai berikut:
a.       Panjang seluruh kamar hitung             : 3mm
b.      Lebar seluruh kamar hitung                : 3mm
c.       Kamar hitung dibagi dalam 9 butir sangkar besar, yang masing-masing mempunyai luas 1mm2.
d.      Empat bujur sangkar yang teletak di keempat sudut kamar hitung, masing-masing terdiri atas 16 buah sangkar yang luasnya 1/16 mm2.
e.       Satu dari 9 bujur sangkar yang besar, yang terletak ditengah-tengah, terdiri atas 25 buah bujur sangkar kecil (dibatasi oleh garis tebal). Setiap bujur sangkar yang kecil ini dibagi dalam 16 bujur sangkar yang lebih kecil lagi (terkecil) dengan ukuran luas (1/20 x 1/20) mm2 = 1/400 mm2.
f.       Kedalaman kamar hitung (tinggi) ialah jarak antara dasar kamar hitung dan kaca penutupnya = 1/10 mm.

Teknik menghitung
a.      Untuk menghitung butir darah putih digunakan 4 kotak yang terletak di keempat sudut kamar hitung (yang msing-masing terdiri atas 16 bujur sangkar, pada gambar diberi tanda huruf W). Satu kotak mempunyai luas 1 mm2 dan dalamnya 1/10 mm, jadi ruangan untuk menghitung jumlah butir darah putih seluruhnya mempunyai ukuran isi (4x1x1/10)mm3 = 4/10 mm3.

Kotak W untuk menghitung BDP      : 4 buah
Kotak R untuk menghitung BDM      : 5 buah
a.       Untuk menghitung butir darah merah digunakan 5 kotak kecil (R) yang terletak dibagian tengah kamar hitung, ialah 4 buat yang terletak di sudut dan sebuah terletak di tengah-tengah. Masing-masing kotak kecil ini terdiri atas 16 kotak dengan ukuran terkecil yang berukuran 1/20x1/20 mm = 1/400 mm2 luasnya, dan kedalamannya 1/10 mm.
b.      Satu kotak kecil mempunyai luas (16x1/400)mm2 dan dalamnya 1/10mm sehingga jumlah isi ruangan yang dihitung eritrositnya = 5x(16x1/400x1/10) mm3 = 80/4000 mm3 = 1/50 mm3.
c.       Semua butir darah yang terletak di dalam kotak yang telah ditentukan dihitung jumlahnya. Bila ada butir-butir darah yang terletak pada garis-garis tepi bujur sangkar, maka yang dimasukkan dalam perhitungan ialah yang terletak pada dua buah garis (sisi) yang membentuk sebuah sudut, misalnya garis (sisi) atas dan samping kiri, dan ini harus konsisten.
Teknik mengisi kamar hitung
Untuk menghitung butir darah merah (eritrosit) :
d.      Aspirator dipasang pada ujung pipet eritrosit
e.       Pembuluh darah ditusuk dan darah yang pertama yang keluar dihapus dulu dengan menggunakan aspirator pada pipet, isaplah darai yang keluar berikutnya, sampai batas angka 0,5 atau 0,1 pada pipet eritrosit.
f.       Ujung pipet dibersihkan dengan kertas atau kain yang halus.
g.      Larutan pengencer Hayem diisap dengan hati-hati dan cepat sampai tanda 101 yang tertera pada pipet. Harus diperhatikan pada saat menghisap darah atau larutan pengencer tidak boleh ada gelembung udara. Bila hal ini terjadi, harus diulang, juga bila terdapat bekuan. Bila kelebihan sedikit larutan yang diisap, dengan hati-hati singgungkanlah ujung pipet pada kertas tissue. Jangan ditiup.
h.      Aspirator dilepas dari pipet dan harus dijaga agar tidak ada cairan yang keluar dai pipet.
i.        Dengan menutup kedua ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, isi pipet dikocok dengan cara membuat gerakan angka 8 agar yang tercampur hanyalah yang terdapat di bagian pipet yang membesar saja.
j.        Cairan pada ujung pipet yang tidak ikut terkocok dibuang
k.      Dengan hati-hati setetes cairan dimasukkan ke dalam kamar hitung dengan cara menempelkan ujung pipet ada tempat pertemuan antara dasar kamar hitung dan kaca penutup.
l.        Butir-butir darah merah  yang ada di dalam kamar hitung dibiarkan mengendap.
m.    Jumlah butir darah merah dihitung dengan menggunakan teknik yang telah dikemukakan tadi.

Pengencer darah di dalam pipet eritrosit dan leukosit


Teknik untuk menghitung butir darah merah sama dengan menghitung butrid darah merah. Perbedaanyya terdapat pada macam pipet, larutan pengencer dan ruang hitungnya.
·         Dengan pipet leukosit, darah diisap sampai tanda 0,5 atau 0,1
       Kemudian larutan pengencer Turk diisap sampai tanda 11 pada ujung lain pipet ini
·         Selanjutnya caranya sana dengan untuk yang BDM.
Perhitungan :
1.      Untuk BDM
Volume ruangan kamar hitung yang digunakan 5 kotak R 1/50 mm3, bila jumlah BDM dalam ruangan tersebut = a maka
1/50 mm3         = a butir
1 mm3              = a x 50 butir
Faktor koreksi pengenceran. Darah 0,5 larutan pengencer sampai 101 dikurangi 1 bagian yang tidak ikut dicampur (dibuang), sehingga pengencerannya 200x.
            Jadi      : Jumlah butir darah merah per mm3 darah merah = 200x50x a butir = ax104 butir.
2.      Untuk BDP
Volume ruangan kamar hitung yang digunakan dalam perhitungan BDP : 4 kotak besar ‘W’ = 4/10 mm3
Bila jumlah BDP dalam ruangan tersebut = b butir, maka
            1 mm3 = 10/4 x b
Faktor pengenceran.
Darah 0,5 larutan pengencer sampai 11 dikurangi 1 bagian yang tidak ikut tercampur (dibuang), sehingga pengencerannya 20x.
Jadi      : jumlah BDP per mm3 darah  = 20x10/4xb butir
                                                            = b x 50 butir


LEMBAR KERJA

A.                Kadar Hemoglobin (Metoda Sahli)
Kadar hemoglobin      : 5 gr
Kadar hemoglobin      : 33 % dari nilai normal
                        Atau    : 0,7 gr %

B.                 Hematokrit (% Volume BDM)
Lapisan merah             : 35 %
Lapisan abu-abu          : 0,2 %

C.                Menghitung Jumlah BDM
Jumlah BDM               : 1.000.000/mm3
MCV                           : 3,5x10-4 fl
MCH                           : 15,15 pj
MCHC                                    : 5x10-5 gr%


PEMBAHASAN

            Hemoglobin merupakan salah satu bentuk protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen yang tinggi. Di dalam darah, hemoglobin membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paruparu untuk dikeluarkan dari tubuh. Berdasarkan hasil pengamatan didapat kadar hemoglobin pada darah kelinci yaitu sebesar 5 gr % atau 33 % dari nilai normal yaitu 15.6 gr %. Ada beberapa faktor yang memengaruhi  kadar hemoglobin yaitu kecukupan besi dalm tubuh dan metabolisme besi dalam tubuh. Kadar hemoglobin yang didapat lebih rendah dari kadar normal  hemoglobin, sehingga dapat diketahui bahwa kelinci tersebut anemia.
Nilai hematokrit adalah volume sel-sel eritrosit seluruhnya dalam 100 ml darah dan dinyatakan dalam persen (%). Berdasarkan hasil praktikum didapat, kadar hematrokrit darah kelinci yaitu 35 %. Nilai hematrokit normal yakni 45 %, sehingga dapat dinyatakan bahwa kelinci terkena anemia. Nilai hematokrit pada saat pemusingan darah ditentukan oleh faktor : radius sentrifuge, kecepatan sentrifuge, dan lama pemusingan.
Untuk mengetahui jumlah eritrosit dalam darah dilakukan penghitungan eritrosit dengan menggunakan hemasitometer. Penambahan larutan Hayem adalah untuk melisiskan sel darah putih unutk memudahkan perhitungan darah merah. Metode yang digunakan adalah metode kamar hitung. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan jumlah BDM pada kelinci yaitu 1 x 106/mm3. Hasil tersebut lebih rendah dari jumlah BDM normal yaitu 5 x 106/mm3. Sehingga dapat diketahui bahwa kelinci tersebut anemia.
Mean Corpuscular Volume (MCV) yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit dinyatakan dengan fermatolitera atau rata-rata ukuran eritrosit. MCV diperoleh dari sepuluh kali kadar hematokrit per total BDM. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) atau banyaknya hemoglobin per eritrosit dinyatakan dengan pikogram. MCH didapat dari perhitungan kadar hemoglobin per nilai hematokrit dikali 100%. MCH dilakukan untuk menentukan anemia makrositik (diatas normal) dan anemia mikrositik (dibawah normal) Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) atau kadar hemoglobin yang didapat per eritrosit, dinyatakan dalam persen (%) atau gram hemoglobin per dL eritrosit. MCHC didapat dari perhitungan 10 kali hemoglobin per total BDM. Perhitungan MCHC dilakukan untuk menentukan anemia hipokromik (MCHC dibawah normal) dan anemia hiperkromik (MCHC diatas normal).
Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan MCV sebesar 3,5x10-4 fl, nilai tersebut lebih rendah daripada nilai MCV normal pada kelinci yaitu 5,75-7,4 fl. MCH didapatkan sebesar 15,15 pj, nilai tersebut lebih rendah daripada nilai MCH normal yaitu 17,11-23,9 pj, sehingga dapat diketahui bahwa kelinci terkena anemia mikrositik. MCHC diperoleh sebesar 5x10-5 gr%, nilai tersebut lebih rendah daripada nilai MCHC kelinci normal yaitu 28,2-37 gr%, sehingga dapat diketahui bahwa kelinci mengalami anemia hipokromik. Berdasarkan data tersebut dapat diketauhi bahwa kelinci terserang anemia hipokromik mikrositik.

KESIMPULAN

Berdasarkan perolehan data kadar hemoglobin, jumlah butir darah, MCH, MCV dan MCHC, disimpulkan bahwa kelinci percobaan terserang anemia hiprokromik mikrositik.


JAWABAN PERTANYAAN

A. Kadar Hemoglobin (Metoda Sahli)
1. Ya, dengan metode Sahli kadar Hb darah kelinci sebesar 12,4 gram ~ 87%.
2.  tidak bisa, karena pipet Sahli merupakan pipet kapiler yang skalanya sangat kecil yaitu 0,020 ml.

B. MENGHITUNG JUMLAH BUTIR DARAH MERAH DAN JUMLAH DARAH PUTIH
1. Untuk mengetahui jumlah darah merah pada 1 mmsehingga dapat disimpulkan hewan tersebut anemia atau tidak.
2. a.   Mean Corpuscular Volume (MCV) yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit disebut dengan fermatoliter/ rata-rata ukuran eritrosit. Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram. Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) yaitu kadar hemoglobin yang didapat per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah “gram hemoglobin per dL eritrosit”.
b. MCV, dihitung berdasarkan rasio prosentase hematokrit dan jumlah butir darah merah dalam darah. MCH, dihitung berdasarkan rasio prosentase hemoglobin dan jumlah butir darah merah. MCHC, dihitung berdasarkan rasio prosentase hemoglobin dan hematokrit.
c. Perhitungan dilakukan untuk mengetahui hewan tersebut mengalami anemia atau tidak.


DAFTAR PUSTAKA

Suckow M A, Stevens K S, Wilsom R P. 2012. The Laboraoty Rabbit, Guinea Pig, Hamster and Other Rodents. Academic Press




2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus