Selasa, 18 Juni 2013

Laporan Fisiologi - Respirasi

 Data Hasil Praktikum Respirasi
No.
Posisia/Aktivitas
Frekuensi (gel/menit)
Amplitudo (cm)
Gambar Gelombang
1.
Tidur
23,4
0,6

2.
Duduk
24,9
0,8

3.
Berdiri (Abdomen)
28,84
0,5

4.
Berdiri (Thoraks)
26,78
0,5

5.
Menelan (Ekspirasi)
26,31
0,5

6.
Menelan (Inspirasi)
26,31
0,6

7.
Membaca (Normal)
39,47
0,8

8.
Membaca (Ekspirasi)
26,31
0,4

9.
Membaca (Inspirasi)
34,09
0,5

10.
Lari
68,18
0,2


Waktu disaat menahan napas & Hipernea
  1. Menahan napas : 17,28 detik

  1. Hipernea : 30 detik

Contoh penghitungan frekuensi pernapasan:
Pada posisi duduk:
S= 3,2 cmà 32 mm
V= 2,5 mm/detik
T= S/V
  = 32 mm/ 2,5 mm/detik
  = 12,8 detik
Frekuensi= 60/12,8 x 5 gelombang
                = 23,4 gelombang/menit.


Pembahasan
Bernapas merupakan suatu aktivitas alamiah dalam sistem respirasi yang dilakukan semua mahluk hidup sepanjang hidupnya. Kegiatan ini melibatkan dua aktivitas utama yaitu inspirasi (mengambil udara)  dan ekspirasi (mengelurkan udara) (Stuart,2004). Komposisi udara yang digunakan untuk inspirasi sebagian besar adalah udara yang mengandung O2 untuk kegiatan metabolisme sel-sel tubuh, sedangkan yang diekspirasikan komponen utama udaranya adalah CO2 hasil metabolisme sel-sel tubuh. Kandungan kedua bahan tersebut harus dalam kondisi homeostatis didalam tubuh. Aktivitas pernapasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: usia, jenis kelamin,suhu tubuh, posisi tubuh dan aktivitas fisik (Guyton, 1997). Saluran udara pernapasan pada sistem respirasi mulai dari mulut ataupun hidung, faring, laring, trachea, bronchus, bronchioles, dan yang terakhir adalah alveolus. Di masing-masing bagian tersebut udara mengalami perlakuan khusus untuk disesuaikan dengan suhu normal tubuh. Sistem respirasi termasuk kedalam sistem saraf otonom atau tidak sadar. Pusat pernapasan terdapat di bagian medulla oblongata. Sistem respirasi memiliki beberapa fungsi yang sangat penting bagi kehidupadan suatu individu, diantaranya adalah pertukarag gas (O2 dengan CO2),mengatur pH, suhu, volume cairan, serta mengaktivasi dan inaktivasi bahan kimia darah tertentu (Ganong,2003).  
Praktikum fisiologi sistem respirasi yang bertujuan untuk mempelajari gerakan-gerakan napas dan perubahan-perubahannya yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengaruh-pengaruh dari sikap badan, menelan dan berbicara, kerja fisik, kadar CO2, rangsangan sensorik yang kuat. Satu dari peserta praktikum ditunjuk sebagai probandus percobaan. Kemudian probandus melakukan beberapa aktivitas yang frekuensi pernapasannya akan diukur menggunaka stetograf. Alat ini berupa sebuah tabung karet elastis yang dipasangkan pada bagian lingkar thorak (dada) probandus, stetograf terhubung pada tambur marey yang berfungsi mengerakkan alat pencatat pada kimograf. Ketika probandus bernapas secara otomatis stetograf yang terhubung pada kimograf akan mencatat gelombang-gelombang pernapasan probandus. Pengambilan data respirasi menggunakan kimograf yang berputar dengan kecepatan 2,5 mm/detik.
Pada perlakuan yang pertama yaitu subjek (probandus) yang diukur frekuensi gelombang pernapsannya mengambil posisi tidur setelah stetograf dipasangkan didadanya. Pencatatan gambar gelombang dilakukan setelah subjek bernapas secara relaksasi. Setelah didapatkan minimal 5 gelombang pencatatan dihentikan. Kemudian dilakuakan penghitungan secara matematik dan didapatkan nilai frekuensi pernapasan subjek yaitu 23,4 gelombang/menit dengan nilai amplitudo 0,6 cm. Data hasil penghitungan, frekuensi pernapasan saat posisi tidur adalah yang paling rendah. Hal ini terjadi karena, tubuh sedang tidak membutuhkan O2 dalam jumlah yang banyak untuk metabolisme tubuh berupa kontraksi otot tubuh.  Setelah itu, subjek menganti posisi tubuhnya dengan duduk. Setelah 5 menit, barulah frekuensi pernapasan diukur kembali. Memberikan selang waktu 5 menit tersebut bertujuan agar subjek dapat relaks dan bernapas dengan normal kembali. Setelah didapatkan catatan gelombang subjek, dilakukan penghitungan matematik lagi. Frekuensi pernapasan pada posisi duduk adalah 24,9 gelombang/menit dengan amplitudo 0,8 cm. Nilai frekuensi tersebut lebih besar dari pada pada posisi yang sebelumnya kerena tubuh mulai membutuhkan O2 dalam jumlah yang banyak untuk otot yang berkontraksi saat probandus duduk. Posisi tubuh berikutnya yang diukur nilai frekuensi dan amplitudonya adalah berdiri. Pada saat berdiri frekuensi pernapasan yang diukur adalah pernapasan dada dan pernapasan perut. Sama seperti perlakuan sebelumnya, pencatatan gelombang dilakukan setelah subjek bernapas dengan relaks. Setelah relaks dan dilakukan pencatatan didapatkan nilai frekuensi pernapasan dada dengan posisi berdiri adalah 26,78 gelombang/menit dengan amplitudo 0,5 cm. Sedangkan frekuensi pernapasan perut adalah 28,84 gelombang/menit dengan amplitudo 0,5 cm. frekueni pernapasan dada lebih besar dari pada pernapasan perut karena sebagian besar manusia melakukan pernapasan menggunakan dadanya. Kemudian subjek diberi air minum untuk dilakukan pengukuran frekuensi pernasan sambil minum. Pada perlakuan menelan air minum sambil ekspirasi didapatkan nilai frekuensi 26,31 gelombang/menit dengan amplitudo 0,5 cm sedangkan pada perlakuan menelan sambil inspirasi didapatkan nilai frekuensi 26,31 gelombang/menit dengan amplitudo 0,6 cm. Pada perlakuan ini terlihan ketidak normalan bentuk gelombang yang dicatat menggunakan kimograf, ketidak normalan tersebut menunjukkan adanya gangguan respirasi. Dalam hal ini, ada saluran bersama yang dilalui oleh makanan dan udara (pencernaan dan respirasi) yaitu pada bagian pharing. Lalu lintas kedua substansi tersebut diatur oleh epiglotis, pada saat bernapas maka epiglotis akan menutup saluran yang menuju ke esophagus, begitu juga sebaliknya jika kita makan ataupun minum, saluran respirasi akan tertutup oleh epigolitis (Anonim). Dalam praktikum kali ini, probandus melakukan hal tersebut secara bersamaan (menelan dan ekspirasi ataupun inspirasi) yang menyebabkan adanya air yang masuk saluran respirasi yang biasa disebut tersedak. Perlakuan selanjutnya adalah membaca disertai dengan ekspirasi dan inspirasi, data membaca sambil ekspirasi didapatkan nilai frekuensi sebesar 26,31 gelombang/menit dengan amplitudo 0,4 cm sedangkan yang sambil melakukan inspirasi didapatkan nilai frekuensi 34,09 gelombang/menit dengan amplitudo 0,5 cm. Perlakuan yang terakhir adalah mengukur frekuensi pernapasan setelah subjek melakukan aktivitas fisik yaitu berlari selama 2 menit. Setelah selesai berlari alat stetograf dipasangkan kembali pada subjek, dan dilakukan pencatatan frekuensi pernapasannya. Nilai frekuensi pernapasan setelah berlari adalah 68,18 gelombang/menit dengan amplitudo 0,2 cm. Nilai frekuensi pernapasan ini adalah yang tertinggi diantara perlakuan-perlakuan sebelumnya hal tersebut terjadi secara otomatisis tubuh memerlukan jumlah O2 dalam jumlah besar untuk metabolism otot-otot yang berkontraksi.
Hiperpnea berpengaruh terhadap gerakan pernapasan. Subjek yang disuruh bernapas biasa kemudian tiba-tiba disuruh berhenti bernapas hanya dapat menahan napas 17,28 detik. Jika subjek yang disuruh bernapas dalam-dalam kemudian tiba-tiba disuruh berhenti bernapas maka subjek dapat menahan napas selama 30 detik. Hal ini menunjukkan bahwa dengan terjadinya hiperpnea atau aktivitas pernapasan yang meningkat, subjek yang menarik napas dalam-dalam akan memiliki napas cadangan yang lebih banyak dibandingkan dengan subjek yang bernapas dengan napas biasa. Sehingga jika seseorang yang menarik napas dalam-dalam akan dapat menahan napas lebih lama dibandingkan jika bernapas biasa.  Pusat pengaturan pernapasan terjadi di medulla oblongata secara tidak sadar (otonom). Kadar O2 dan CO2 merupakan signal sensoris untuk medulla oblongata memberikan perintah kepada otot-otot pernapas untuk berkontraksi sehingga terjadi proses respirasi. Pada perlakuan praktikum menghentikan pernapasan selama mungkin, terjadi penumpukan kadar CO2 didalam tubuh subjek gejala ini disebut dengan hipercapnia (Cuninghan, 1992). Peristiwa ini terjadi karena hipoventilasi yaitu menurunkan kadar saat mengkonsumsi O2. Tingginya kadar CO2 didalam tubuh mengabitkan pH darah menjadi asam. Sama seperti setelah subjek melakuakan aktivitas fisik, nilai frekuensi pernapasan subjek setelah menahan napas selama 3 menit juga sangat tinggi yaitu 68,19 gelombang/menit.   

Kesimpulan
Ritmis atau frekuensi pernapasan dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu posisi badan, aktivitas menelan, membaca dan kerja fisik. Faktor-faktor tersebut mengubah mekanisme tubuh dalam mengkonsumsi O2 dan mengelurkan CO2.
        
              
Daftar Pustaka
Cuninghan, James G. 1992. Textbook of Veterinary Phsiology. USA:W.B Saunders Company.
Fox, Stuart Ira. 2004. Human Physiology. 8th Edition. Mc Graw-Hill Companies,USA.  
Ganong WF. 2003. Review of Medical Physiology, 22nd Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc.
Guyton, Arthur C. & Hall, John E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi Kesembilan. dr. Irawati Setiawan, penerjemah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.          
Mc Laren JE and L. Rotundo. 1985. Heath Biology. DC Heath and Company,
           USA. 


Nb: Sorry baru pembahasannya, pendahuluannya segera menyusul :)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar